Penyebab kanker sudah lama diketahui merupakan multi faktor. Artinya tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Namun dipercaya bahwa kanker adalah efek samping dari gaya hidup modern yang salah kaprah dan tak terkontrol. Kombinasi stress kronis, racun-racun kimiawi dari polusi, efek bahan-bahan pengawet pada makanan, serta beberapa pencetus lain merupakan hal-hal yang dapat menyebabkan kanker.
Pengobatan terhadap kanker terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu dengan berbagai metodologi, namun hingga saat ini belum didapatkan cara terjitu yang dapat menuntaskan penyakit tersebut hingga mencapai kesembuhan total. Salah satu cara yang kini mulai dilirik untuk lebih menjinakkan keganasan kanker adalah berpuasa. Efek medik dari puasa memang sangat masuk akal, karena puasa sebetulnya adalah proses detoksifikasi menyeluruh pada tubuh. Dengan berpuasa, secara otomatis kita telah mengurangi asupan makanan berlemak dan tinggi kalori, juga membatasi nikotin, alkohol, kafein, gula, susu, daging, garam, MSG, dan telur yang dalam kuantitas tertentu bisa merugikan tubuh. Selain itu, berpuasa juga akan membatasi pemasukan zat pemanis buatan, zat pewarna sintetik, zat pengawet kimia, dan bahan bahan lain yang sesungguhnya tidak dibutuhkan oleh tubuh. Detoksifikasi dapat diartikan sebagai pembersihan tubuh bagian dalam, terutama sistem pencernaan, terhadap berbagai jenis racun. Karena secara alamiah, usus besar (kolon) merupakan pusat kotoran, sehingga wajar kalau organ tersebut tidak bisa bersih 100 persen. Dengan berpuasa, usus kita menjadi tidak penuh seperti biasanya.
Kosongnya usus akan mengurangi peluang kontak antara senyawa beracun (toksin) dengan usus, sehingga dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit, terutama kanker kolon. Kanker kolon timbal terjadi karena kontak secara terus-menerus antara senyawa karsinogenik (penyebab kanker) dengan dinding kolon.
Puasa notabene membatasi frekwesi makan, karena salah satu dampak negatif dari makan yang berlebih adalah menumpuknya racun (toksin) di dalam tubuh. Racun tersebut merupakan salah satu metabolit dari proses metabolisme normal di dalam tubuh. Organ tubuh yang harus bekerja keras untuk mengatasi toksin tersebut adalah hati. Hati harus melakukan proses detoksifikasi (penawaran racun) agar tidak meracuni tubuh. Kemampuan hati sangat tergantung dari toksin yang baru saja dilumpuhkan. Jika jumlah toksin berlebih karena pola makan yang selalu berlebih, hati tidak akan mampu untuk menetralkannya.
Maka ummat Islam sangat beruntung dapat menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh sebagai penyeimbang dari 11 bulan yang terlewati sebelumnya dengan kegiatan makan yang menumpuk racun-racun dalam tubuh. Tak heran tubuh yang telah dibersihkan dari racun-racun ini menjadi sehat dan pulih, sementara kelangsingan tubuh yang menyertai hasil dari puasa tersebut sebetulnya hanyalah merupakan efek samping belaka. Karena puasa bukan semata-mata metode untuk pelangsingan. Selain sebagai penggemblengan mental spiritual sebagai esensi utama dari ibadah puasa itu sendiri, kegiatan ini mengandung seribu manfaat yang tak bisa diabaikan begitu saja. Beberapa manfaat puasa terhadap kesehatan antara lain: memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan; membebaskan tubuh dari racun, kotoran dan ampas yang bertumpuk; membuat kulit lebih sehat bersinar; memblokir makanan untuk bakteri, virus dan sel kanker; menambah jumlah sel darah putih dan meningkatkan daya tahan tubuh; meningkatkan daya serap makanan; menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh; memperbaiki fungsi hormon; meningkatkan fungsi organ reproduksi; meremajakan sel-sel tubuh; meningkatkan fungsi organ tubuh; meningkatkan fungsi susunan saraf pusat, dsb.
Bayangkan, tubuh yang telah mengalami proses penyehatan dan pemulihan yang luar biasa itu, tentu meningkatkan daya tahan tubuh secara signifikan. Daya tahan tubuh yang meningkat juga merupakan suatu cara menguatkan antibody pada tubuh yang dapat menangkal serangan-serangan merugikan berupa penyakit. Sehingga dapat dimaklumi bila invasi sel kanker juga dapat dihambat atau diperlambat kecepatannya untuk menyebar. Semakin kuat antibody tubuh, semakin piawai pula dalam menumpas ganasnya sel-sel kanker. Namun tentu saja metodologi puasa ini tidak dihentikan begitu saja, lalu kembali ke gaya hidup serupa sebelumnya yang "kotor" dan tak teratur. Karna bisa jadi racun yang cepat kembali menumpuk, akan membuat tubuh kembali tak berdaya. Proses detoksifikasi bisa diteruskan sebagai pilihan gaya hidup sehat yang dijalani secara berkelanjutan. Misalnya melakukan ritual puasa seminggu dua kali. Atau pilihan lain, menjalani hidup bersih dengan diet makanan sehat rendah kalori yang menjauhi daging dan makanan berpengawet, serta memperbanyak asupan buah dan sayur . Karna sehat sebetulnya tidak terjadi dengan sendirinya. Sehat adalah sebuah pilihan hidup dan keputusan pribadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar