Sabtu, 05 Desember 2009

INGIN SEHAT ? BERILAH MAAF.

Oleh: Ewith Bahar.
Apa hubungannya sehat dengan memaafkan ? Sepertinya berbeda kutub, sehat terkesan sangat berkaitan dengan performa fisik, sementara memaafkan adalah suatu pekerjaan yang berhubungan dengan mental spiritual yang abstrak. Namun demikian anjuran memaafkan untuk kesehatan telah lama saya dengar dan ketahui tapi tak pernah benar-benar tertarik memanfaatkannya. Barangkali karena belum pernah bersentuhan secara langsung dengan permasalahan yang serius membuat saya harus mengerahkan bathin untuk memaafkan. Hingga suatu hari !!!
Seseorang membuat saya amat terluka, marah, jatuh harga, dan sedih yang amat sangat. Belum pernah saya merasa sangat marah sekaligus sedih seperti itu, sampai-sampai seolah ingin mati. Namun untung akal sehat masih tetap lebih dominan. Artinya saya tetap sadar sepenuhnya bahwa amarah dalam dada ini akan sangat merugikan kesehatan saya dan saya harus mencari cara untuk memusnahkannya. Dan saya tak punya daya untuk membalas dendam. Bukan karena takut atau tak tahu caranya. Saya berani dan tahu caranya, namun harga diri yang sangat tinggi melarang saya untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan melunturkan citra baik yang sudah dengan susah payah saya bangun selama ini.
Akhirnya saya membuat keputusan ekstrim. Orang yang telah membuat saya murka bukan alang kepalang itu HARUS SAYA MAAFKAN. Kejadian menyakitkan yang telah saya alami itu HARUS SAYA IKHLASKAN. Saya merasa getir sendiri, bagaimana mungkin kemarahan ini harus ditransformasi menjadi maaf ? Bagaimana mungkin orang yang telah membuat saya segan hidup itu justru harus saya maafkan dan sekaligus doakan ? Dalam keadaan sangat tidak ikhlas, pelahan-lahan dengan airmata yang masih mengalir, dalam kesepian kamar ditengah malam sepi saya berbisik: "Aku ikhlas mengalami semua ini, aku ikhlas lahir bathin, karena tak ada sesuatupun yang terjadi tanpa izin MU Ya Allah. Aku ikhlas ya Rabb". Air mata saya mengalir tambah deras, karena merasa sangat ironis, memaksakan diri untuk IKHLAS dalam ketidak ikhlasan. Namun kalimat itu berulan g-ulang terus saya lafalkan. Wajah "penjahat" itu kemudian terlukis di mata saya, dan membuat kebencian di hati saya menggunung lagi. Saya pejamkan mata dan kembali berbisik: "Aku ikhlas lahir bathin memaafkanmu. Semoga Allah selalu memberimu kebahagiaan, keberuntungan dan penerang dalam setiap kesulitanmu. Semoga setiap keinginan baikmu terkabul, dan setiap langkah hidupmu membuahkan rizki yang halal, termasuk rizki kesehatan dan rizki ketakwaan". Saya terus mengulangnya, entah berapa kali. Puluhan kali sudah pasti. Afirmasi ikhlas dan maaf itu juga saya selingi dengan zikir "Astaghfirullah" dan asma'ul husna "Yaa Qowiyy Yaa Matiin" yang artinya Maha Kuat dan Maha Perkasa, yang sengaja saya ucapkan untuk memberi kekuatan pada diri dan hati. Sampai akhirnya.....keajaiban menghampiri saya. Saya merasa sejuk, ringan, damai, dan rasa kasih sayang yang mendalam mengaliri hati saya dengan begitu luar biasa. Saya tengok jam, hampir satu jam setengah ternyata saya larut dalam tepekur ini. Saya terheran-heran dan takjub, kemana kemarahan saya menguap ? Kemana kesedihan yang tadi begitu pekat menggelapkan hati ? Demi Allah, begitulah terjadinya, ini pengalaman pribadi, saya tidak melebih-lebihkan atau mengurangkannya untuk mendramatisir cerita ini. Wajah "sang penjahat" yang semula dalam khayalan ingin saya terkam hidup-hidup , kini justru terbayang dalam ekspresi wajah yang lain. Saya merasa kasihan, pasti ia berada dalam konflik sehingga sehingga harus bersikap menyakitkan. Saya kasihan padanya karena membayangkan , bahwa diluar sepengetahuan saya mungkin ia berada dalam keadaan yang menjepit sehingga kehilangan kontrol untuk bersikap. Saya merasa kasihan padanya, karena saya merasa pasti meskipun sedikit saya mungkin punya andil membuatnya harus bersikap menyakitkan. Airmata kembali mengalir, namun kali ini airmata ketulusan memohon ampun pada Allah semoga mau memaafkan kesalahan saya yang telah menyebabkannya harus berbuat buruk. Dengan airmata ketulusan pula saya kemudian memohonkan pada Allah agar dia yang saat ini mungkin berada dalam masalah, dalam kesedihan, agar segera diberi pertolongan. Alangkah ajaibnya ! Saya terus menerus terheran-heran, bagaimana mungkin dua jam yang lalu hati saya masih menghunus pedang kemarahan dan mengucapkan afirmasi "maaf" dan "ikhlas" dengan perasaan marah, kini terduduk diam dalam tenang yang dalam dan sejuk dengan kalbu diliputi penuh maaf dan ikhlas. Analisisnya adalah, yang pertama, benar bahwa kekuatan do'a tak pernah sia-sia. Kedua, kekuatan pikiran dimana kita mengirimkan afirmasi dengan konsisten secara terus menerus, akan diolah sedemikian rupa oleh bawah sadar (subconsciousness) dan mewujudkannya sebagaimana yang kita inginkan.
Alhamdulillah, pilihan memaafkan ketimbang marah dan dendam itu kini berbuah persahabatan yang indah. Dan beberapa minggu yang lalu, seorang teman yang memiliki problem dengan kemarahan pada seseorang ini saya sarankan melakukan hal serupa dengan yang telah saya jalankan. Dan ia langsung menjalaninya. Dan kemudian "melaporkan" hasilnya pada saya. Ia takjub. Maaf dan ikhlas yang awalnya di stimulasi dengan afirmasi berulang-ulang itu working so well ! Si teman yang sebelumnya sering merasa sakit kepala dan beberapa keluhan fisik lain nya tersebut, sejak kejadian memaafkan dengan ikhlas tersebut, tak lagi mengalami problem dengan penyakit-penyakit menyebalkan itu. Memaafkan terbukti memang terapeutik, punya efek penyembuh yang besar. Dalam bukunya, "Forgive for Good", Dr. Frederic Luskin menjelaskan bahwa penting bagi kita memiliki sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti ampuh untuk kesehatan dan kebahagiaan. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak buruk pada kesehatan yang dapat terlihat jelas. Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" (Pemaafan) , yang diterbitkan oleh Healing Current Magazine (sebuah majalah kesehatan di Amerika) menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani. Kemarahan menurut penelitian medis, disinyalir dapat meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
Memang lebih banyak penelitian medis yang membuktikan bahwa ada korelasi yang erat antara kondisi mental atau kejiwaan yang tenang dan kesehatan fisik. Makin tenang dan tentram bathin serta jiwa seseorang, makin sehat dia, dan makin kuat kadar imunitasnya. Survey membuktikan bahwa hampir semua penderita kanker di seluruh duniapun, mengawali penyakitnya yang mengerikan itu dengan memelihara rasa dendam dan kepahitan terhadap orang lain yang mereka pendam selama bertahun-tahun. Dendam dan kanker ini ternyata berkorelasi secara kuat. Dendam yang membawa stress, melemahkan seluruh sistem tubuh, termasuk kacaunya kerja enzim-enzim dan hormon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar